Selasa, 05 Juli 2016

Tiga Sekawan Tak Terpatahkan (Nyawa Sahabatku Terselamatkan)

Tiga Sekawan Tak Terpatahkan (Nyawa Sahabatku Terselamatkan)
By:"Karmani Soekarto"
Published on by GUEPEDIA

E-book Library:

Penulis : Karmani Soekarto Hal : 297 ISBN : 978-602-6236-00-5 Sinopsis : Misi perjalanan kami bertiga, bersepeda adalah untuk mengisi liburan Ganefo, Games of the New Emerging Forces, 10 Nov 1963 s/d 24 Nov 1963 Visi atau tujuan kita adalah:  Pengenalan wisata alam, mengenalkan Telaga Sarangan dan Air Terjun Tawangmangu yang begitu indah sesuai dengan lagunya.  Pengenalan wisata sejarah, mengenalkan kepada dunia tentang keindahan Candi Prambanan dan Borobudur yang tak ada duanya di planet bumi ini.  Pengenalan wisata budaya, mengenalkan Kota Madiun yang sudah ada di Jaman Mataram ketika Panembahan Senopati pendiri Mataram mengalahkan Adipati Madiun, Madiun dikalahkan, akhirnya puterinya yang bernama Retno Dumilah malah dipersunting oleh Panembahan Senopati, ya karena Panembahan Senopati menurut cerita Babad Tanah Jawi cakep, mumpuni menjadi raja Tanah Jawa, maka Tanah Jawa kala itu dibawah kekuasaan Mataram. Pengenalan Kota Solo dan Jogya sebagai kota Budaya, jangan lupa Solo dan Jogya dulu hanya satu sebelum perjanjian Giyanti 1755, sehingga Mataram terpecah jadi dua itu, atau menandai berakhirnya Mataram  Pengenalan wisata cinta tanah air, dari rangkuman tersebut menimbulkan rasa cinta Tanah Air. Perjalanan bersepeda dikala penduduk masih belum seberapa padat seperti sekarang, penerangan juga sangat belum memadai, tiap 100 meter hanya diterangi dengan lampu listrik 25 Watt dalam kota, selebihnya tanpa penerangan. Kendaraan bermesin juga belum seberapa banyak. Ternyata perjalanan menuju Borobudur melewati Sarangan Tawangmangu kala itu tidak gampang, lebit 50 Km kami harus mendorong sepeda karena jalan naik semakin tinggi. Perjalanan sungguh mencekam bagi kami berdua karena salah satu sahabatku membuat ulah dengan menantang Penunggu Gunung Lawu diajak berduel ketika kami berada di jalan Sarangan kearah Tawangmangu yang masih wingit kala itu. Tak satupun rumah terbuka pintunya di senja hari ketika tiba di Tawangmangu. Kenapa? Kami bertiga mandi-mandi dibawah Air TerjunTawangmangu dimalam hari Jumat, sungguh mencekam. Suara tangis anak kecil mengikuti kami. Aku harus menanggung derita disengat kumbang hitam di pada turunan Tawangmangu – Solo hanya karena memetik sekuntum bunga tanpa ijin, memang tidak orang yang menunggu kumbang hitam itulah penunggunya, sementara sahabatku terjatuh pada jalan menurun berpelok 90 drajatdidepannya sungai mengalir deras dengan berbatu besar-besar, karena lancang berani menantang Penungg Gunung Lawu. Beruntung kami bertiga terlatih koprol sejak klas I SMA. Ketiga kami minum air sumur dari Sragen ke arah Mantingan, jantungku rasa berhenti berdenyut melihat mata pemilik rumah, setelah itu tak satupun manusia atau kendaraan berpapasan dengan kami sampai Mantinagan, Ngawi dan Madiun. Akhirnya kami selamat sampai di kotaku, tetapi tangis itu selalu mengikuti kami, hanya kakekku yang bisa menyuruh anak itu kembali ke alamnya. Peristiwa itu tak pernah aku lupakan dalam benakku, peristiwa yang tidak masuk akal manusia sehat tetapi kami mengalami semuanya.

This Book was ranked 32 by Google Books for keyword sinopsis anak jalanan.

Thank you
E-Book University

Tidak ada komentar:

Posting Komentar